SEKOLAH PENGGERAK
 

Program Sekolah Penggerak (PSP) adalah upaya untuk mewujudkan Visi Pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. PSP berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter.

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 162/M/2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Sekolah penggerak, menyebutkan bahwa tujuan PSP adalah meningkatkan kompetensi dan karakter yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila, menjamin pemerataan kualitas pendidikan melalui program peningkatan kapasitas kepala sekolah yang mampu memimpin satuan pendidikan dalam mencapai pembelajaran yang berkualitas, membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat yang berfokus pada peningkatan kualitas, serta menciptakan iklim kolaboratif bagi para pemangku kepentingan di bidang pendidikan baik pada lingkup sekolah, pemerintah daerah, maupun pusat.

PSP akan dilakukan secara bertahap dan terintegrasi. Pada tahun ajaran 2021/2022, program ini akan melibatkan 2.500 satuan pendidikan di 34 provinsi dan 110 kab/kota; untuk tahun ajaran 2022/2023 akan melibatkan 10.000 satuan pendidikan di 34 provinsi dan 250 kab/kota; untuk tahun ajaran 2023/2024 bertambah menjadi 20.000 satuan pendidikan di 34 provinsi dan 514 kab/kota; dan akan terus dilanjutkan sampai 100 persen satuan pendidikan menjadi Sekolah Penggerak.

Proses pemilihan sekolah yang melaksanakan PSP, diawali dengan seleksi kepala sekolah. Tes seleksi meliputi: menulis esai tentang sekolah, Tes Bakat Skolastik (TBS), tes wawancara dan tes mengajar. Kepala SMA Marsudirini Bekasi H. Nugroho Sudjatmiko, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa setelah melalui proses seleksi kepala sekolah, SMA Marsudirini dinyatakan lolos dan terpilih untuk melaksanakan Program Sekolah Penggerak Tahun Ajaran 2021/2022. Proses selanjutnya adalah penguatan SDM, dengan sasaran Komite Pembelajaran terdiri dari kepala sekolah, pengawas sekolah dan 11 orang guru kelas X (masing-masing 1 orang untuk mata pelajaran: Pendidikan Agama, PPKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA terpadu, IPS Terpadu, PJOK, Seni dan Prakarya, Informatika, Bimbingan dan Konseling). Sedangkan, untuk pelaksanaan pembekalan dan pelatihan selama 10 hari, yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan TK dan PLB (P4TK TK dan PLB), dalam rentang bulan Juni sd Juli 2021.

Sebagai tindaklanjut persiapan pelaksanaan PSP di satuan pendidikan maka dilaksanakan In House Training (IHT) untuk seluruh guru kelas X, XI, dan XII berjumlah 33 peserta, dimulai tanggal 7 hingga 15 Juli 2021,dengan metode daring. Kegiatan ini merupakan bentuk pengimbasan, Komite Pembelajaran kepada rekan gurunya. Meskipun guru sasaran tahun ajaran 2021/2022 adalah guru kelas X, namun seluruh guru kelas XI dan XII pun secara aktif mengikuti pelatihan IHT PSP ini.  Kegiatan ini sekaligus sebagai upaya agar seluruh guru memiliki kapasitas dan kompetensi yang menjadi kunci dalam melakukan restrukturisasi dan reformasi pendidikan.

Pembuka kegiatan IHT adalah Drs. H. Fatah Hidayat, MM, selaku pengawas sekolah. Beliau menyampaikan bahwa dengan dilaksanakannya PSP maka SMA Marsudirini Bekasi harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan paradigma baru dirancang berdasarkan prinsip pembelajaran yang terdiferensiasi sehingga setiap siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya

Graphic123.jpg

Komite Pembelajaran mensosialisasikan rencana implementasi tersebut kepada guru-guru sesuai sasaran yang ditetapkan di dalam panduan. Alur pembelajaran IHT, baik dalam modul maupun pelaksanaan pelatihan merupakan bentuk penerapan Pembelajaran Transformatif melalui inkuiri yang percaya bahwa pembelajaran transformatif dapat didorong dengan mendesain alur dan struktur komunikasi, kolaborasi, serta proses pemikiran individu dalam ekosistem belajar daring yang melibatkan refleksi dan dialog. Prinsip pembelajaran yang diterapkan selama IHT yaitu dengan prinsip-prinsip Pembelajaran Orang Dewasa (POD) atau memimpin/membimbing orang dewasa (Andragogi). Setelah IHT selesai, dilakukan evaluasi dan pelaporan. Harapannya semoga dengan IHT, guru menerapkan Pembelajaran dengan Paradigma Baru di satuan pendidikan.

Semoga Kegiatan IHT memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas pembelajaran di SMA Marsudirini Bekasi dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan secara nasional.

Deus Providebit!